“Kita takkan pernah sadar betapa berharga sesuatu hingga
sesuatu itu direbut dari kita...”
Delica mengerjapkan
matanya menatap sahabatnya, Mario. Bulu matanya yang panjang dan lentik itu
naik turun mengikuti gerakan kelopak matanya yang terbuka dan tertutup. “Kamu
bohong kan?” tanyanya penuh harap. Matanya masih mengedip-ngedip. Wajahnya
terlihat penuh harap. “Bilang sama aku kalau kabar bahwa kamu mau pindah itu
nggak bener! Tolong, Rio, bilang kalau itu nggak bener, please,” suara bening nan lembut itu benar-benar terdengar memelas.
Cowok di hadapannya
mengusap wajah dan menggeleng dengan berat hati. “Maafin aku, Little Lica,
maafin aku,” desahnya. Bayangan hidup tanpa sahabat sepanjang masanya ini
benar-benar menyiksanya. Little Lica adalah panggilan kesayangan Rio pada
Delica yang memang tampak sangat imut dengan mata besar dan pipi tembam. Anehnya,
walaupun pipinya tembam, Delica termasuk gadis dengan tubuh ideal.
Mereka adalah pasangan
tak terpisahkan. Meskipun masing-masing sudah punya pacar, mereka tetap jalan
bersama, nyaris tak mempedulikan fakta bahwa pacar masing-masing cemburu akan
kedekatan mereka. Tapi mereka terlalu dekat untuk menjadi sepsang kekasih.
Seringkali terdengar rumor mengenai hubungan mereka yang sudah melangkah ke
tahap yang lebih tinggi, yakni pacaran. Bahkan mereka pernah dikabarkan sudah
bertunangan.
“Kapan kamu perginya?”
tanya Delica berhasil mengendalikan diri. Ia memperhatikan Mario menutup pintu
lokernya. Delica memang baru saja mendengar kabar kepindahan Mario dari Erika,
sahabat wanitanya. Awalnya Delica marah karena Mario tidak memberitahunya
terlebih dahulu, tapi dia memutuskan bahwa mungkin Mario tak sanggup kalau
harus memberitahunya tanpa harus melihatnya menangis.
Senyum tipis kembali
terkembang di wajah tampan Mario. Dia merangkul pundak Delica seperti biasa.
Mereka sama sekali tak merasa canggung karena memang sudah terbiasa. “Lusa,”
bisiknya sangat lirih. Campuran antara takut, sedih, dan berbagai perasaan
lainnya yang sulit digambarkan.
Memang suara Mario
sangat amat lirih, tapi itu masih cukup keras bagi Lica. “Apa?” suaranya bening
itu berubah melengking dan memenuhi lorong sekolah mereka. Matanya yang memang
sudah besar, jadi semakin besar akibat pelototan Delica, hidungnya
kembang-kempis menahan marah. Wajahnya memerah karena marah dan kaget. “Kamu
bercanda ya? Kenapa kamu baru bilang sih? Kalau tadi Erika nggak kasih tahu
aku, aku nggak bakal tahu kalau kamu pergi, gitu maksud kamu? Mau menghilang
tanpa jejak? Kok kamu tega sih sama aku,” serunya sambil memukul-mukul lengan
Mario.
Mario tak menanggapi
omelan Delica dan malah mengajaknya ke kantin. “Hei, sabar dong, Lic. Kamu kan
tahu kalau aku benar-benar nggak mau ini terjadi, tapi mau gimana lagi? Aku
udah mau ngasih tahu kamu dari minggu lalu, tapi keberanianku selalu menipis
tiap kali aku ingin mengatakannya padamu. Akhirnya akupun menunda-nunda. Maaf
ya, Little Lica,” jelas Mario.
Tiba-tiba Mario memeluk
Delica lebih erat dan dengan cara yang berbeda dari biasanya. “Aku sayang kamu,
Lica, aku cinta kamu,” bisiknya sambil mendekap Lica dan entah kenapa jantung
Delica jadi berdebar tak keruan.
~~~
Hari masih pagi saat
Mario tiba di bandara Soekarno-Hatta dengan kopor besar dan beberapa bawaan
lainnya. Ia diantar oleh kedua orang tuanya dan juga kakaknya, Mike. Matahari
masih belum tampak tapi Mario sudah harus check
in. Hari ini, Mario akan berangkat ke
London untuk melanjutkan pendidikan di sana.
Matanya menjelajahi
tiap sudut bandara. Berusaha menemukan seseorang yang mungkin takkan
ditemuinya. Mario mendesah. Seharusnya dia sadar, orang yang dicarinya itu
pasti sangat membencinya saat ini, terutama karena kejadian kemarin. Hhh...
Mario hanya mengharapkan sesuatu yang tak mungkin.
~~~
Delica menarik diri dari pelukkan Mario dan memundurkan
duduknya dengan sikap tegang. “Rio, kamu ngomong apa sih?” tanyanya gugup.
Matanya menatap ke segala arah kecuali ke kedua mata bening yang kini sedang
menatapnya dengan tatapan terluka. Delica menundukkan kepalanya malu tanpa
alasan yang bisa dimengertinya. Jantungnya berdentam keras dan cepat hingga ia
merasa kalau dadanya hampir meledak dan jantungnya akan melompat keluar. Delica
cukup yakin bahwa wajahnya sudah merona saat ini.
“Maafin aku, Lic. Seharusnya aku nggak ngelakuin itu.
Err...” Mario menggaruk tengkuknya yang tak gatal dengan gugup. Perasaan tak
nyaman merayapi hatinya. Kemudian perasaan tak nyaman itu berkembang menjadi
rasa sakit yang menyedihkan. Tak biasanya Mario ditolak oleh seorang gadis,
maka saat itu terjadi, bukan saja hatinya yang terluka, karena dia benar-benar
mencintai Delica, tapi juga egonya sebagai seorang laki-laki.
Mario memutuskan untuk berlari ke kelas dengan alasan ada
pekerjaan rumah yang lupa dikerjakannya. Delica menggelengkan kepalanya. Tentu
saja itu tak benar. Mario tak pernah lupa mengerjakan pekeraan rumah.
Mengerjakan pekerjaan rumah sudah seperti hobi baginya. Delica menatap
kepergian Mario dengan mata nanar. Bibirnya bergerak namun tak mengeluarkan
suara. Bibirnya membentuk kata, “maafin aku.”
~~~
Delica berlari melewati
berbagai terminal keberangkatan dan kedatangan di bandara Internasional
Soekarno-Hatta. Air matanya mulai mengalir akibat kepanikan yang tiba-tiba
menyerangnya. Bagaimana kalau dia sudah naik ke pesawat? Bagaimana kalau
pesawatnya sudah tinggal landas? Bagaimana kalau mereka takkan pernah bisa
bertemu lagi? Dan berbagai “bagaimana kalau” lainnya.
Saat akhirnya ia tiba
di depan gerbang keberangkatan internasional, ia melihatnya. Ia belum naik ke
atas pesawat. Air mata yang menggenangi pelupuk matanya kembali bejatuhan. Kali
ini yang ada adalah air mata kebahagiaan.
Dengan langkah pelan,
Delica menghampiri Mario yang sedang duduk di sebuah kafe. “Rio,” panggilnya.
Mario tampak kaget saat melihatnya. Tanpa meminta izin, Delica langsung duduk
di hadapannya. “Rio, kalau aku terima cinta kamu, maukah kamu batal pergi
London?” tanyanya langsung.
“Maafkan aku, Lica, itu
tak bisa aku lakukan,” katanya.
“Baiklah kalau begitu.
Setidaknya saat kamu ada di London, kamu tidak akan melirik wanita lain,” kata
Delica. “Baiklah, kalau begitu aku mau menerima cinta kamu,” lanjut Delica.
“Benarkah, Lic? Atau
itu hanya karena kamu tak ingin aku pergi?” tanya Mario curiga.
“Itu karena aku tak
ingin kehilangan kamu,” bisik Delica sebelum ia berdiri dan memeluk Mario erat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar