Setiap
kehidupan selalu mempunyai makna tersendiri. Tidak pernah ada hidup yang
sia-sia. Karena Tuhan telah menciptakan setiap mahluk-Nya untuk melakukan
sesuatu yang berguna bagi sesama. Tapi, itu semua tergantung pada setiap
pribadi itu sendiri. Maukah mereka melakukannya? Ataukah mereka memilih untuk
diam di tempat? Tidak mundur maupun maju, hingga hidupnya akan tetap terus di
tempat. Berjalan di tempat. Sama seperti jalan di tempat yang biasa kita
lakukan saat berolah raga, lama-kelamaan itu akan terasa membosankan. Itulah
sebabnya Tuhan menciptakan setiap kehidupan dengan maknanya masing-masing.
Pilihan kita sendiri yang mau membuat hidup kita bermakna bagi Tuhan, sesama,
maupun diri sendiri, atau menjadikan hidup kita membosankan untuk Tuhan,
sesama, bahkan diri kita sendiri.
Kalau
saya sendiri, tentu saja saya akan memastikan hidup saya bermakna bagi orang
lain, Tuhan, dan tentunya, diri saya sendiri. Caranya adalah dengan membuat dan
berusaha memastikan orang-orang di sekitar saya, terutama yang saya cintai dan
sayangi, bahagia. Terserah dengan cara apapun. Membuat mereka tertawa, bangga,
atau paling tidak tersenyum kecil. Karena ketika kita melihat orang-orang yang
kita sayangi tertawa bahagia, secara otomatis, tawa, senyum, maupun kebahagiaan
itu sendiri akan menyebar.
Seperti
flu atau penyakit menular lainnya. Tawa dan segala hal yang membuat kita
senang, akan selalu menular dengan cepat. Lewat perasaan, suara, sentuhan,
bahkan lewat setiap udara yang kita hembuskan. Bahkan perasaan bahagia bisa
menyebar lebih cepat dari virus apapun.
Cara
saya membuat hidup saya bermakna di hadapan Tuhan adalah dengan melakukan yang
terbaik yang bisa saya lakukan untuk membantu orang lain. Dan bukannya
menyusahkan orang lain. Saya tahu itu adalah hal yang sangat sulit. Karena
terkadang, kita seringkali membuat orang lain kesusahan tanpa kita sadari.
Namun sekali lagi, saya akan berusaha, semampu saya, atau bahkan mungkin
melebihi kemampuan saya. Paling tidak, saya takkan menyebabkan orang lain
kesusahan di depan mata saya sendiri.
Dan
ketika saya telah berhasil melakukan semua itu, saya yakin, hidup saya akan
lebih bermakna. Lebih berwarna.
Dalam
hidup, kita selalu punya tujuan, target, rencana, keinginan, cita-cita, imipan,
apapun itu untuk masa depan kita. Tanpa tujuan atau target yang jelas, kita
akan kehilangan arah. Kita akan menjadi tersesat. Bagaikan anak kecil yang
mencari-cari ibunya. Oleh karena itu, kita harus menentukan keinginan kita,
target atau tujuan yang ingin kita capai, dan tentu saja, cara untuk mencapai
segala target, tujuan, keinginan, maupun cita-cita kita itu.
Cita-cita
saya sangat simpel. Saya ingin menjadi penulis. Bukan dokter yang harus belajar
tinggi-tinggi. Bukan pengacara yang harus jago berdebat. Ataupun presenter yang
harus pintar berbicara.
Bagi
saya pribadi, penulis itu sama saja seperti ilustrator. Penulis dan ilustrator
sama-sama mengilustrasikan. Penulis dan ilustrator sama-sama berimajinasi. Penulis
dan ilustrator juga sama-sama bekerja di balik layar. Perbedaannya hanyalah,
penulis mengilustrasikan perasaan sang penulis, sedang ilustrator
mengilustrasikan perasaan, keadaan, karakter orang lain, atau dari media lain.
Perbedaan lainnya adalah, penulis mengilustrasikan lewat tulisan dan kata-kata,
sedang seorang ilustrator mengilustrasikan lewat garis, titik, dan warna.
Salah
satu alasan saya ingin menjadi penulis adalah, karena saya ingin membuat orang
lain tertawa, menangis terharu, terinspirasi, maupun termotivasi lewat tulisan
saya seperti yang selama ini telah terjadi pada saya lewat karya-karya orang
lain. Selain itu, saya juga ingin mengeksepresikan diri saya, pikiran saya,
perasaan saya dengan bebas. Menurut saya, menulis adalah terapi yang terbaik.
Pada
menulislah saya biasa melarikan diri. Menulis membuat saya menjadi orang lain.
Begitu terlarut pada suatu tokoh yang saya ciptakan sendiri membuat saya
terkadang menginginkan kehidupannya yang begitu bahagia. Namun saya sadar semua
tokoh-tokoh itu hanya tokoh fiksi. Tidak nyata. Tapi, apa mau dikata, hanya
menulis yang dapat menghilangkan seluruh penat, beban, dan stres saya. Dengan
menulis, saya menemukan kebahagiaan saya sendiri. Menurut saya, begitulah efek
dari menulis pada diri saya sendiri.
Seringkali
saya tertawa pada diri saya sendiri. Menertawakan obsesi aneh saya pada tokoh
fiksi tertentu, pada kisah tertentu. Namun, saya akhirnya mengerti, bahwa dari
obsesi itu, saya bisa lebih memahami kehidupan.
Saya
sadar, bahwa mungkin dari menulis, kita tidak bisa menghasilkan apapun kecuali
sepenggal cerita, atau berlembar-lembar kisah, dan itupun belum tentu bisa
berarti untuk orang lain. Tapi apa yang harus saya lakukan? Saya menemukan
gairah saya pada menulis. Passion
saya ada dalam setiap halaman yang saya tulis. Setiap imajinasi, keinginan,
bahkan harapan yang saya tuangkan dalam bentuk tinta di selembar kertas.
Cara
saya untuk mencapai cita-cita saya itu adalah, tentu saja dengan berlatih,
nyaris setiap hari. Berkonsultasi dengan para ahli (guru Bahasa Indonesia dan
beberapa penulis yang saya kenal). Belajar dan belajar lebih banyak lagi.
Seperti kata pepatah, practice makes
perfect.
Hanya
saja, ada satu keyakinan saya. Ketika kita sudah berlatih, belajar mati-matian,
itu semua akan sia-sia jika tidak dibarengi dengan keinginan dan keyakinan
bahwa kita bisa, yang kuat. Pengalaman adalah guru terbaik. Dan saya sendiri
sudah merasakannya. Pengalaman cerita saya tidak disukai, itu sudah amat
sering. Pengalaman ceritanya dikritik ataupun dijelek-jelekkan, itu malah lebih
sering lagi. Tapi dari itu semua, saya tahu dan akhirnya mengerti, bahwa semua
memang selalu ada prosesnya. Dan dalam proses itulah kita akan menjadi dewasa.
Dewasa dalam segala hal. Dewasa dalam berpikir, berbicara, dan bertindak.
Kesempurnaan yang absolut atau mutlak, akan kita raih jika kita telah melalui
proses yang sama sekali tak mudah.
Tapi
saya percaya, bahwa jika kita telah melalui itu semua dan mencapai target
maupun cita-cita yang kita inginkan, hasilnya akan sebanding. Bahkan mungkin
lebih dari yang telah kita lalui. Dan semua itu, adalah bagian dari kesenangan
yang akan kita terima pada akhirnya.
“I'm selfish, impatient
and a little insecure. I make mistakes, I am out of control and at times hard
to handle. But if you can't handle me at my worst, then you sure as hell don't
deserve me at my best.” - Marilyn Monroe.
“You only live once,
but if you do it right, once is enough.” - Mae West.
“There are only two
ways to live your life. One is as though nothing is a miracle. The other is as
though everything is a miracle.” - Albert Einstein.
“It does not do to
dwell on dreams and forget to live.” - J.K. Rowling, Harry Potter and the
Sorcerer's Stone.
“Life is an
opportunity, benefit from it. Life is beauty, admire it. Life is a dream,
realize it. Life is a challenge, meet it. Life is a duty, complete it. Life is
a game, play it. Life is a promise, fulfill it. Life is sorrow, overcome it.
Life is a song, sing it. Life is a struggle, accept it. Life is a tragedy,
confront it. Life is an adventure, dare it. Life is luck, make it. Life is too
precious, do not destroy it. Life is life, fight for it.” - Mother Theresa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar