Minggu, 26 Mei 2013

Namaku Pelangi



13 April 2000

Namaku Pelangi. Sekarang, aku duduk di bangku kelas 6 SD Harapan. Saat ini aku sedang mengikuti pelajaran IPA, hanya saja aku sudah merasa bosan mendengarkan ocehan guru IPA-ku tentang simbiosis mutualisme atau apapun itu. Aku sendiri tak tahu kenapa aku selalu tak bisa paham apapun mengenai pelajaran alam. Menurutku alam itu terlalu luas untuk dipelajari sehingga ketika kita mempelajarinya dalam bentuk terkotak-kotak seperti ini, aku merasa selalu ada yang kurang untuk dipelajari.
Sebenarnya selain menulis buku harian ini, hal lain yang menjadi hiburanku saat ini adalah pemandangan cowok yang duduk di sebelahku ini. Langit. Mungkin ini hanya pengaruh yang terjadi padaku dari masa pubertas, tapi menurutku dia memang terlihat lebih ganteng daripada teman-teman cowok sekelasku yang lain. Sayangnya dia agak nakal dan sangat cuek. Tapi aku tak peduli. Memandanginya sepanjang hari takkan merusak mataku kok. Mungkin aku harus meminta Bu Lusi agar tidak pernah memindahkan tempat duduk lagi. Aku sudah cukup bahagia duduk di sini, meski duduk di baris paling belakang dan juga paling ujung, asalkan yang duduk di sebelahku adalah Langit, itu sama sekali tak masalah bagiku.
"Mau sampai kapan lo ngeliatin gue," suaranya yang mulai mengalami perubahan itu tiba-tiba saja mampir ke telingaku. Walaupun nadanya terdengar ketus, tapi itu cukup untuk membuatku berbunga-bunga. Ahh... menyenangkan sekali. Saat dia mengucapkan itu, tentu saja aku langsung menulisnya. Ya ampun, aku sampai lupa menjawab.
Sebenarnya, aku ingin menjawab, "Sampai kapanpun, aku akan tetap mengagumi wajahmu yang tampak seperti diukir oleh dewa-dewi Yunani dengan sangat jeli itu." Tapi tentu saja aku tak mau mempermalukan diriku sendiri dengan melakukan itu. Akhirnya aku memutuskan untuk menjawab, "Emangnya aku nggak boleh ngeliatin kamu?" (tentu saja aku menjawab dulu baru menulis ini).
"Jangan-jangan lo nulis juga kata-kata yang tadi, lagi," katanya mengejutkanku. Dia kemudian tampak ingin mengintip kamu, buku harianku. Hhh... daripada dia membaca tulisanku dan membuatku malu, lebih baik, besok lagi deh, aku nulisnya.

~~~

24 Mei 2003

Namaku Pelangi. Sekarang aku duduk di kelas tiga SMP Darma Bangsa. Sekarang aku sedang mengikuti pelajaran sejarah, yang sangat membosankan. Bahkan, beberapa anak di deretanku sudah tertidur sekarang. Yah, semua anak sebenarnya di deretanku dan di deretan di depanku. Kecuali aku dan teman sebangkuku, Langit.
Aku sendiri tak mengerti kenapa aku masih juga duduk sebangku dengannya. Selalu saja, dia meminta duduk sebangku denganku. Mungkin karena sudah merasa nyaman kalau bekerja sama atau mungkin karena dia suka berada di dekatku. Haha. Aku tahu, itu sama sekali tak mungkin. Langit dan aku? Sama seperti langit dengan bumi. Ya, ya, itu memang agak aneh, karena namaku bukan bumi melainkan Pelangi dan langit dan pelangi hampir selalu berdampingan, tapi itu kan hanya perumpamaan (hhh... aku jadi bingung sendiri).
Langit adalah cowok yang sangat populer di sekolah ini. Mungkin karena wajah tampannya, atau mungkin karena dia jago olahraga, atau mungkin karena sikap dinginnya yang malah dianggap cool dan misterius. Sementara Pelangi? Siapa yang mengenal Pelangi? Mungkin cukup banyak juga, mengingat aku adalah si ketua OSIS yang super kutu buku, jelek, dan aneh. Mungkin juga karena aku ini sering ikut olimpiade dan sebagainya. Nah, sudah liat perbedaannya? Tidak mungkin kan, seorang Langit yang super gaul itu suka kepada seorang Pelangi yang super nerd ini?
Sesekali aku melirik ke arah Langit. Hmm... memang tak mungkin dia menyukaiku.

~~~

12 Januari 2006

Namaku Pelangi. Saat ini aku duduk di bangku kelas tiga SMA. Sekarang aku sedang mengerjakan ujian nasional matematika. Aku menulis ini di kertas coretan, tentu saja, mungkin nanti baru akan aku pindahkan ke buku harianku. Beberapa menit yang lalu, aku baru saja selesai memeriksa untuk yang ketiga kalinya jawabanku. Yah, aku hanya bisa berharap bahwa aku punya cukup jawaban yang benar untuk bisa lulus.
Langit tampaknya belum selesai. Hhh... dia tampak sangat berkonsentrasi. Dia duduk di sebelah kananku. Meja kami memang terpisah. Tapi secara teknis, dia tetap duduk di sebelahku. Sekitar sebulan terakhir ini, aku sering membantunya untuk belajar karena nilainya agak menurun sejak dia terpilih menjadi kapten tim basket. Kami jadi lebih sering bicara. Setidaknya, dia tak sedingin sebelumnya padaku, walau hubungan kami belum termasuk hangat. Sebenarnya Langit adalah orang yang benar-benar pintar kalau saja dia bisa lebih berkonsentrasi. Ya Tuhan, dia ternyata benar-benar seseorang yang sempurna. Sudah tampan, pintar, jago olahraga, pandai bersosialisasi, pula. Andai saja dia mau melihatku barang sesaat saja. Bukan sebagai teman belajar, bukan sebagai guru, atau sebagai si kutu buku, tapi sebagai seorang cewek, yang selalu ada di sisinya, aku pasti akan merasa sangat bahagia.
Tiba-tiba Langit menoleh ke arahku. Dan aku melihatnya. Dia tersenyum lebar sekali. Dia jadi tampak semakin tampan. Ini benar-benar berkah. Mungkin dia memang bukan tersenyum padaku, mungkin pada orang di belakang, atau di depan, atau di sebelah kiriku. Tapi aku tak peduli. Aku tetap membalas senyum menawannya itu.  Dia menggerakkan mulutnya, membentuk kata “terima kasih”. Aku tersenyum semakin lebar, berarti senyumannya itu memang untukku. “Sama-sama” balasku dan kemudian bel tanda waktu ujian selesai berbunyi nyaring.

~~~

30 Juni 2010

Namaku Pelangi. Saat ini aku sedang mendengarkan pidato dari salah satu dosenku. Ya, hari ini adalah hari wisudaku. Mulai hari ini aku mempunyai gelar dr. di depan namaku. Aku duduk di barisan terdepan bersama beberapa penerima gelar cum laude lainnya. Di sebelahku, Langit duduk dan tersenyum padaku. Matanya mengikuti tiap goresan tinta yang kutorehkan di atas kertas buku harian yang sudah nyaris habis ini, yang menemani perjalanan kami sejak kami duduk di bangku sekolah dasar.
Yah, dia sekarang menjadi sahabatku sejak kami masuk di kelas yang sama saat kuliah. Kami lulus dengan nilai sempurna pada waktu yang seharusnya. Sebenarnya aku menginginkannya menjadi lebih dari seorang sahabat, namun kurasa, menjadi sahabatnya sudah cukup.
Aku merasa bahagia, benar-benar bahagia. Bisa duduk di sini bersama sahabatku di hari wisudaku. Ups, tunggu dulu, apa tadi aku menulis bahwa aku ingin dia menjadi lebih dari sahabat? Pada saat dia sedang membacanya? Aku ini benar-benar bodoh atau apa?

~~~

Lanjutan yang sebelumnya,

Namaku Pelangi. Aku adalah seorang sarjana kedokteran dan pacar dari Langit Pradipta. Ya, setelah tulisanku yang sebelumnya, Langit menyatakan cintanya padaku begitu saja. Katanya, dia sudah menyimpan perasaan padaku sejak SMA dulu. Sejak aku membantunya mempersiapkan ujian. Haha, sungguh, aku tak menyangka.
Langit menyatakan cintanya padaku, saat orang-orang lain sedang melempar topi toga mereka. Aku terlalu senang hingga meneteskan air mata. Kemudian Langit memelukku dan kemudian teman-teman kami mengerubungi kami untuk memberi selamat. Kami pun berfoto bersama, dengan pose Langit memelukku. Ah, senangnya.

~~~

26 Mei 2013

Namaku Pelangi dan aku adalah orang paling bahagia sejagat hari ini. Di hari ulang tahunku yang ke-25 ini, Langit, kekasihku selama tiga tahun belakangan ini, atau harus kubilang tunanganku, melamarku. Aku hanya bisa menangis dan kemudian memeluknya. Langit kemudian menggenggam tanganku dan memasukkan cincin berlian ke jari ketiga pada tangan kiriku kemudian menciumku. Ya Tuhan, ciuman pertamaku. Kulakukan dengan orang yang kucinta.
Dua puluh lima tahun yang lalu, hal ini bagaikan mustahil. Namaku memang Pelangi, si cahaya penuh warna, tapi menurutku, aku ini bukan apa-apa untuk Langit, si populer dan si segalanya. Tidak mungkin Langit bisa untuk seorang Pelangi, si kuper, si kutu buku, si jelek, dan si nothing.
Tapi sekarang, bagaikan tidak ada yang mustahil bagiku. Aku bisa mendapatkan cinta Langit, jadi bagiku, tak ada lagi yang mustahil. Aku tahu, mungkin aku masih tak sempurna bagi Langit. Tapi aku akan terus berusaha. Berusaha untuk menjadi seseorang yang paling mendekati sempurna bagi Langit seorang. Karena aku mencintainya, dan sekarang, aku percaya bahwa cinta bisa membuat semua hal terjadi.
Mungkin fisikku tidak selalu ada di sisinya. Tapi pikiranku dan hatiku akan selalu ada di sisinya, selamanya. Paling tidak aku bisa menjanjikan itu.
Oh, Langit memanggilku untuk bergabung dengan keluargaku untuk membicarakan tanggal pernikahan. Ah, aku tak menyangka bahwa aku, Pelangi Aurelia, akan menikah dengan tunanganku, Langit Pradipta. Bisakah kalian bayangkan itu?
Langit membisikkan sesuatu. Oh, rupanya dia membaca tulisanku. “Kamu selalu akan menjadi sempurna untukku,” bisiknya di telingaku tadi.
Namaku Pelangi dan aku adalah wanita paling bahagia di dunia. Oh, dan jangan lupa untuk datang ke pernikahan kami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar