Tahu nggak sih, gue sering mikir kalau segala sesuatu yang ada di dunia tuh cuma kemungkinan doang. Mungkin kita bakal mati pas kita umur lima puluh. Atau mungkin pas kita umur seratus. Mungkin juga sampai saat kiamat datang, kita baru mati. Kita mungkin bakal menikah, atau mungkin juga nggak. Nggak ada yang tahu kepastiannya. Itu semua cuma kemungkinan semata. Mungkin si dia bakal jadi presiden, atau mungkin si anu bakal jadi menteri. Mungkin juga sohib kita bakal ngekhianatin kita suatu hari nanti. Atau mungkin malah kita yang nusuk si sohib dari belakang. Who knows?
Yah, emang sih, kita cuma bisa berencana, Tuhan yang menentukan. Betul banget tuh kata-kata, gue setuju setengah mampus. Saat kita nggak bisa ngerjain ulangan, belom tentu juga kita bakal remed. Mungkin aja semua jawaban ngasal kita itu bener. Siapa yang tahu?
Yang bisa kita lakukan cuma berharap, berdoa, berusaha, dan kemudian berserah. Nggak ada yang lain. Abis mau gimana lagi? Masa kita mau maksain sesuatu yang emang udah ditakdirin untuk nggak terjadi. Karena lagi, kita ini cuma manusia bodoh yang basicly nggak bisa ngapa-ngapain. Kita cuma harus percaya bahwa Tuhan selalu merencanakan segala hal yang terbaik buat kita. Nah, lho, tau-tau gue jadi super religius. Sok bijak gitu, nggak sih gue?
Udah ah, sekian dulu.
retrouvailles
Minggu, 07 Juli 2013
Minggu, 02 Juni 2013
When You're Gone
“Kita takkan pernah sadar betapa berharga sesuatu hingga
sesuatu itu direbut dari kita...”
Delica mengerjapkan
matanya menatap sahabatnya, Mario. Bulu matanya yang panjang dan lentik itu
naik turun mengikuti gerakan kelopak matanya yang terbuka dan tertutup. “Kamu
bohong kan?” tanyanya penuh harap. Matanya masih mengedip-ngedip. Wajahnya
terlihat penuh harap. “Bilang sama aku kalau kabar bahwa kamu mau pindah itu
nggak bener! Tolong, Rio, bilang kalau itu nggak bener, please,” suara bening nan lembut itu benar-benar terdengar memelas.
Cowok di hadapannya
mengusap wajah dan menggeleng dengan berat hati. “Maafin aku, Little Lica,
maafin aku,” desahnya. Bayangan hidup tanpa sahabat sepanjang masanya ini
benar-benar menyiksanya. Little Lica adalah panggilan kesayangan Rio pada
Delica yang memang tampak sangat imut dengan mata besar dan pipi tembam. Anehnya,
walaupun pipinya tembam, Delica termasuk gadis dengan tubuh ideal.
Mereka adalah pasangan
tak terpisahkan. Meskipun masing-masing sudah punya pacar, mereka tetap jalan
bersama, nyaris tak mempedulikan fakta bahwa pacar masing-masing cemburu akan
kedekatan mereka. Tapi mereka terlalu dekat untuk menjadi sepsang kekasih.
Seringkali terdengar rumor mengenai hubungan mereka yang sudah melangkah ke
tahap yang lebih tinggi, yakni pacaran. Bahkan mereka pernah dikabarkan sudah
bertunangan.
“Kapan kamu perginya?”
tanya Delica berhasil mengendalikan diri. Ia memperhatikan Mario menutup pintu
lokernya. Delica memang baru saja mendengar kabar kepindahan Mario dari Erika,
sahabat wanitanya. Awalnya Delica marah karena Mario tidak memberitahunya
terlebih dahulu, tapi dia memutuskan bahwa mungkin Mario tak sanggup kalau
harus memberitahunya tanpa harus melihatnya menangis.
Senyum tipis kembali
terkembang di wajah tampan Mario. Dia merangkul pundak Delica seperti biasa.
Mereka sama sekali tak merasa canggung karena memang sudah terbiasa. “Lusa,”
bisiknya sangat lirih. Campuran antara takut, sedih, dan berbagai perasaan
lainnya yang sulit digambarkan.
Memang suara Mario
sangat amat lirih, tapi itu masih cukup keras bagi Lica. “Apa?” suaranya bening
itu berubah melengking dan memenuhi lorong sekolah mereka. Matanya yang memang
sudah besar, jadi semakin besar akibat pelototan Delica, hidungnya
kembang-kempis menahan marah. Wajahnya memerah karena marah dan kaget. “Kamu
bercanda ya? Kenapa kamu baru bilang sih? Kalau tadi Erika nggak kasih tahu
aku, aku nggak bakal tahu kalau kamu pergi, gitu maksud kamu? Mau menghilang
tanpa jejak? Kok kamu tega sih sama aku,” serunya sambil memukul-mukul lengan
Mario.
Mario tak menanggapi
omelan Delica dan malah mengajaknya ke kantin. “Hei, sabar dong, Lic. Kamu kan
tahu kalau aku benar-benar nggak mau ini terjadi, tapi mau gimana lagi? Aku
udah mau ngasih tahu kamu dari minggu lalu, tapi keberanianku selalu menipis
tiap kali aku ingin mengatakannya padamu. Akhirnya akupun menunda-nunda. Maaf
ya, Little Lica,” jelas Mario.
Tiba-tiba Mario memeluk
Delica lebih erat dan dengan cara yang berbeda dari biasanya. “Aku sayang kamu,
Lica, aku cinta kamu,” bisiknya sambil mendekap Lica dan entah kenapa jantung
Delica jadi berdebar tak keruan.
~~~
Hari masih pagi saat
Mario tiba di bandara Soekarno-Hatta dengan kopor besar dan beberapa bawaan
lainnya. Ia diantar oleh kedua orang tuanya dan juga kakaknya, Mike. Matahari
masih belum tampak tapi Mario sudah harus check
in. Hari ini, Mario akan berangkat ke
London untuk melanjutkan pendidikan di sana.
Matanya menjelajahi
tiap sudut bandara. Berusaha menemukan seseorang yang mungkin takkan
ditemuinya. Mario mendesah. Seharusnya dia sadar, orang yang dicarinya itu
pasti sangat membencinya saat ini, terutama karena kejadian kemarin. Hhh...
Mario hanya mengharapkan sesuatu yang tak mungkin.
~~~
Delica menarik diri dari pelukkan Mario dan memundurkan
duduknya dengan sikap tegang. “Rio, kamu ngomong apa sih?” tanyanya gugup.
Matanya menatap ke segala arah kecuali ke kedua mata bening yang kini sedang
menatapnya dengan tatapan terluka. Delica menundukkan kepalanya malu tanpa
alasan yang bisa dimengertinya. Jantungnya berdentam keras dan cepat hingga ia
merasa kalau dadanya hampir meledak dan jantungnya akan melompat keluar. Delica
cukup yakin bahwa wajahnya sudah merona saat ini.
“Maafin aku, Lic. Seharusnya aku nggak ngelakuin itu.
Err...” Mario menggaruk tengkuknya yang tak gatal dengan gugup. Perasaan tak
nyaman merayapi hatinya. Kemudian perasaan tak nyaman itu berkembang menjadi
rasa sakit yang menyedihkan. Tak biasanya Mario ditolak oleh seorang gadis,
maka saat itu terjadi, bukan saja hatinya yang terluka, karena dia benar-benar
mencintai Delica, tapi juga egonya sebagai seorang laki-laki.
Mario memutuskan untuk berlari ke kelas dengan alasan ada
pekerjaan rumah yang lupa dikerjakannya. Delica menggelengkan kepalanya. Tentu
saja itu tak benar. Mario tak pernah lupa mengerjakan pekeraan rumah.
Mengerjakan pekerjaan rumah sudah seperti hobi baginya. Delica menatap
kepergian Mario dengan mata nanar. Bibirnya bergerak namun tak mengeluarkan
suara. Bibirnya membentuk kata, “maafin aku.”
~~~
Delica berlari melewati
berbagai terminal keberangkatan dan kedatangan di bandara Internasional
Soekarno-Hatta. Air matanya mulai mengalir akibat kepanikan yang tiba-tiba
menyerangnya. Bagaimana kalau dia sudah naik ke pesawat? Bagaimana kalau
pesawatnya sudah tinggal landas? Bagaimana kalau mereka takkan pernah bisa
bertemu lagi? Dan berbagai “bagaimana kalau” lainnya.
Saat akhirnya ia tiba
di depan gerbang keberangkatan internasional, ia melihatnya. Ia belum naik ke
atas pesawat. Air mata yang menggenangi pelupuk matanya kembali bejatuhan. Kali
ini yang ada adalah air mata kebahagiaan.
Dengan langkah pelan,
Delica menghampiri Mario yang sedang duduk di sebuah kafe. “Rio,” panggilnya.
Mario tampak kaget saat melihatnya. Tanpa meminta izin, Delica langsung duduk
di hadapannya. “Rio, kalau aku terima cinta kamu, maukah kamu batal pergi
London?” tanyanya langsung.
“Maafkan aku, Lica, itu
tak bisa aku lakukan,” katanya.
“Baiklah kalau begitu.
Setidaknya saat kamu ada di London, kamu tidak akan melirik wanita lain,” kata
Delica. “Baiklah, kalau begitu aku mau menerima cinta kamu,” lanjut Delica.
“Benarkah, Lic? Atau
itu hanya karena kamu tak ingin aku pergi?” tanya Mario curiga.
“Itu karena aku tak
ingin kehilangan kamu,” bisik Delica sebelum ia berdiri dan memeluk Mario erat.
When I Love You
"Terkadang
kesetiaan berbalas pengkhianatan. Tetapi percayalah, mereka yang tetap setia
kepada kebaikan akan mendapat yang terbaik.” -Pepatah.
Metha
menatap titik-titik air yang secara berturut-turut menghantam bumi dengan
tatapan kosong. Butiran kristal bening bergulir menuruni pipinya. Sakit itu
ternyata masih terasa kental di dadanya, membuat ia kembali menangis. Tanpa
memedulikan air mata yang membasahi pipinya, Metha kembali mengarahkan
pandangannya pada langit yang sedang menangis. Sama seperti hatinya yang sedang
dilanda kepiluan. Pandangannya kabur oleh air mata yang semakin deras keluar
dari pelupuk matanya. Metha sendiri terkejut bahwa ia masih bisa meneteskan air
mata setelah beberapa hari lamanya ia tak henti mengeluarkan air mata.
Sebuah
tangan tiba-tiba menyentuh bahunya. Tak ada reaksi apapun dari gadis itu. Tak
ada umpatan maupun makian yang keluar dari bibir tipisnya. Reaksi yang sama
sekali aneh bila mengingat Metha yang dulu. Metha yang bermulut pedas. Metha
yang selalu mendapatkan apapun yang diinginkannya. Metha yang tak segan
mengeluarkan kata-kata kasar saat ia menginginkannya.
Dengan
perlahan, sama sekali bukan untuk menimbulkan efek dramatisir atau apapun,
Metha menoleh. Mendapati kakaknya sedang tersenyum getir sambil menatap adik
satu-satunya itu. Kayla hanya bisa menatap pilu adiknya yang kini sedang -
masih - menangis. Betapa ia rindu pada senyum sinis yang biasanya terbit di
wajah adiknya yang cantik itu. “Tha, mmm... ada Dylan,” cicit Kayla. Tak
biasanya Kayla kehilangan kewibawaannya dan tampak sangat gugup seperti itu.
Namun, siapapun yang berada di posisi Kayla, pasti akan mengerti kegugupannya.
Ia tahu, mengucapkan nama itu lagi, pasti sama rasanya seperti jeruk lemon yang
diperas tepat di atas luka yang masih menganga bagi adiknya tersayang. Hanya
saja, Kayla merasa bahwa masalah Metha pantas untuk menemukan jalan keluar, dan
ia juga tak ingin Metha berlarut-larut dalam kesedihan dan kubangan air mata
seperti ini.
“Bilang
padanya, aku nggak mau melihat batang hidungnya lagi. Suruh dia pergi, kalau
bisa, tidak usah kembali,” katanya lebih dingin daripada es di Kutub Utara.
Bila tak ada air mata di pipinya, orang lain akan mengira bahwa Metha sama
sekali tak terganggu dengan kedatangan Dylan itu.
Kayla
bangkit dari sisi adiknya. Ia mengacak rambut sang adik dengan penuh sayang.
"Jangan siksa diri kamu sendiri, Meth," katanya. Sebelum ia beranjak
dari sisi adiknya itu, Kayla kembali menambahkan, "Dan jangan menyiksa
orang lain juga."
Metha
memejamkan mata sesaat ketika ia merasakan perih itu menghantam dadanya saat
mendengar nama itu disebutkan. Namun lamat-lamat ia kembali membuka matanya dan
tampak kekuatan baru di sana, kekuatan yang mampu mengalahkan baja paling keras
sekalipun. Tekad yang terbuat dari emas, logam mulia yang takkan pernah
berkarat. Saat melihat adiknya mengangguk mantap, Kayla hanya bisa tersenyum
samar, berharap bahwa ini adalah penyelesaian terbaik. Kemudian Kayla keluar
dari kamar adiknya untuk mengabarkan pada Dylan bahwa adiknya akan menemui
cowok itu.
Di
dalam kamarnya yang sepi, ditemani rinai hujan, Metha menangis tanpa suara.
~~~
Metha
berdiri bersedekap seakan melindungi dirinya di sudut ruangan. Matanya
membelalak menatap sosok pria yang akhir-akhir ini menghantui hari-harinya,
mimpinya, dan pikirannya. Menyadari hal itu, Metha kembali mengernyit.
Menyadari bahwa mungkin masih ada sejumput rasa yang sama, yang tersisa untuk
pria di hadapannya. Metha menutup mata sejenak dan menggelengkan kepala untuk
menyingkirkan pikiran yang baru saja menghinggapinya.
Matanya
menatap tajam ke arah pria itu. Bila tatapan bisa menyakiti seseorang, bisa
dipastikan bahwa Dylan sudah terkapar dengan tubuh berdarah-darah di lantai
apartemen Kayla sekarang. “Mau apa kamu ke sini? Belum puas kamu
mempermalukanku, membuatku menjadi kacau seperti ini? Perlu apa kamu ke sini?”
tanya Metha dengan suara dingin yang mampu membekukan siapapun yang
mendengarnya.
Pria
itu sebenarnya tampak sama kacaunya dengan gadis itu. Hanya saja, ia tampak lebih
rapi daripada Metha. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Tha, sebegitu
bencinya kah kamu sama aku? Harus berapa kali kamu mendengar permohonan maaf
dariku sampai kamu mau memaafkanku?” kata Dylan dengan suara memohon.
Mata
gadis di hadapannya melotot garang. Sekarang siapapun yang menatapnya pasti
langsung bisa terbakar hidup-hidup oleh api amarah yang berkobar-kobar di dalam
matanya yang sebenarnya amat bening itu. “Apa kamu bilang?! Aku nggak tahu ya,
ternyata kulit kamu itu lebih tebal daripada badak. Masih punya muka ya kamu
untuk minta maaf setelah apa yang udah kamu lakukan?” sentak Metha keras. Ia
menggeleng-gelengkan kepalanya dan menampilkan ekspresi kaget yang dibuat-buat.
Kemarahannya mampu membuatnya melakukan apapun. Bahkan mungkin menggorok leher
pria di hadapannya ini pun mampu dilakukannya bagaikan pembunuh berdarah dingin
tanpa perasaan saat ini juga. “You dumb
me like piece of trash dan kamu berharap aku bisa maafin kamu hanya dengan
sebuah kata maaf? I have no idea that you
can be that naive,” katanya pedas. “Mana perempuan jalang yang kurang
beruntung itu? Apa kamu juga udah mengkhianati dia kayak kamu mengkhianati aku?
Kasihan banget ya tu cewek brengsek, rasanya bukan kayak ketiban duren, tapi
ketiban pohon duren, iya. Sial banget, sumpah,” lanjutnya sambil menggelengkan
kepala dengan ekspresi penuh simpati.
Wajah
Dylan sontak menegang. Bukan ini tujuannya datang ke sini. Bukan untuk
mendengar mantan kekasihnya ini menjelek-jelekkan dirinya ataupun Stella, selir
cintanya waktu itu. “Tha, aku ke sini bukan untuk mendengarkan kamu marah-marah
atau maki-maki aku. Aku ke sini untuk minta maaf secara baik-baik, ya, Tha,” ucapnya
mulai kehilangan kesabaran menghadapi gadis di hadapannya.
Metha
merasakan lava panas bernama kemarahan itu kembali menggelegak dalam jiwanya
yang terlalu kelam untuk diselami. Ia memutar bola matanya. “Bullshit soal minta maaf dan segala
rupa. AKU. NGGAK. PEDULI. Kamu selamanya akan tetap jadi bajingan brengsek
nggak tahu diri di mata aku, dan kamu, kamu sebaiknya minggat jauh-jauh dari
depan mataku!” bentar Metha dengan suara yang sudah meninggi.
Tak
dinyana, Dylan melangkahkan kaki keluar lewat pintu depan apartemen dengan gaya
angkuh. Kemarahan tanpa alasan, membuatnya lupa akan rasa bersalah yang
sebelumnya mendiami dirinya tanpa ingin pergi. Sebelum ia menutup pintu
apartemen, ia menoleh dan dengan cuek, ia berkata, “Kamu tahu, Tha? Semua hal
yang aku ucapkan atau aku lakukan selama kita masih SALING mencintai, adalah
asli, tanpa akting atau dibuat-buat. Aku hanya ingin kamu paling tidak, nggak
akan memandang aku serendah debu di ujung sepatu kamu,” katanya tajam kemudian
menutup pintu.
“BRENGSEK
KAMU, DYLAN!!!” jerit Metha melengking sekeras-kerasnya, memastikan bahwa Dylan
dapat mendengarnya dengan jelas.
Metha
kembali menangis. Dalam tangis luapan kesedihannya, diam-diam kelegaan
merangkak naik merasuki relung hatinya.
Mungkin kali ini, aku membuat keputusan
yang tepat, bisiknya
dalam hati.
Kehidupan
Setiap
kehidupan selalu mempunyai makna tersendiri. Tidak pernah ada hidup yang
sia-sia. Karena Tuhan telah menciptakan setiap mahluk-Nya untuk melakukan
sesuatu yang berguna bagi sesama. Tapi, itu semua tergantung pada setiap
pribadi itu sendiri. Maukah mereka melakukannya? Ataukah mereka memilih untuk
diam di tempat? Tidak mundur maupun maju, hingga hidupnya akan tetap terus di
tempat. Berjalan di tempat. Sama seperti jalan di tempat yang biasa kita
lakukan saat berolah raga, lama-kelamaan itu akan terasa membosankan. Itulah
sebabnya Tuhan menciptakan setiap kehidupan dengan maknanya masing-masing.
Pilihan kita sendiri yang mau membuat hidup kita bermakna bagi Tuhan, sesama,
maupun diri sendiri, atau menjadikan hidup kita membosankan untuk Tuhan,
sesama, bahkan diri kita sendiri.
Kalau
saya sendiri, tentu saja saya akan memastikan hidup saya bermakna bagi orang
lain, Tuhan, dan tentunya, diri saya sendiri. Caranya adalah dengan membuat dan
berusaha memastikan orang-orang di sekitar saya, terutama yang saya cintai dan
sayangi, bahagia. Terserah dengan cara apapun. Membuat mereka tertawa, bangga,
atau paling tidak tersenyum kecil. Karena ketika kita melihat orang-orang yang
kita sayangi tertawa bahagia, secara otomatis, tawa, senyum, maupun kebahagiaan
itu sendiri akan menyebar.
Seperti
flu atau penyakit menular lainnya. Tawa dan segala hal yang membuat kita
senang, akan selalu menular dengan cepat. Lewat perasaan, suara, sentuhan,
bahkan lewat setiap udara yang kita hembuskan. Bahkan perasaan bahagia bisa
menyebar lebih cepat dari virus apapun.
Cara
saya membuat hidup saya bermakna di hadapan Tuhan adalah dengan melakukan yang
terbaik yang bisa saya lakukan untuk membantu orang lain. Dan bukannya
menyusahkan orang lain. Saya tahu itu adalah hal yang sangat sulit. Karena
terkadang, kita seringkali membuat orang lain kesusahan tanpa kita sadari.
Namun sekali lagi, saya akan berusaha, semampu saya, atau bahkan mungkin
melebihi kemampuan saya. Paling tidak, saya takkan menyebabkan orang lain
kesusahan di depan mata saya sendiri.
Dan
ketika saya telah berhasil melakukan semua itu, saya yakin, hidup saya akan
lebih bermakna. Lebih berwarna.
Dalam
hidup, kita selalu punya tujuan, target, rencana, keinginan, cita-cita, imipan,
apapun itu untuk masa depan kita. Tanpa tujuan atau target yang jelas, kita
akan kehilangan arah. Kita akan menjadi tersesat. Bagaikan anak kecil yang
mencari-cari ibunya. Oleh karena itu, kita harus menentukan keinginan kita,
target atau tujuan yang ingin kita capai, dan tentu saja, cara untuk mencapai
segala target, tujuan, keinginan, maupun cita-cita kita itu.
Cita-cita
saya sangat simpel. Saya ingin menjadi penulis. Bukan dokter yang harus belajar
tinggi-tinggi. Bukan pengacara yang harus jago berdebat. Ataupun presenter yang
harus pintar berbicara.
Bagi
saya pribadi, penulis itu sama saja seperti ilustrator. Penulis dan ilustrator
sama-sama mengilustrasikan. Penulis dan ilustrator sama-sama berimajinasi. Penulis
dan ilustrator juga sama-sama bekerja di balik layar. Perbedaannya hanyalah,
penulis mengilustrasikan perasaan sang penulis, sedang ilustrator
mengilustrasikan perasaan, keadaan, karakter orang lain, atau dari media lain.
Perbedaan lainnya adalah, penulis mengilustrasikan lewat tulisan dan kata-kata,
sedang seorang ilustrator mengilustrasikan lewat garis, titik, dan warna.
Salah
satu alasan saya ingin menjadi penulis adalah, karena saya ingin membuat orang
lain tertawa, menangis terharu, terinspirasi, maupun termotivasi lewat tulisan
saya seperti yang selama ini telah terjadi pada saya lewat karya-karya orang
lain. Selain itu, saya juga ingin mengeksepresikan diri saya, pikiran saya,
perasaan saya dengan bebas. Menurut saya, menulis adalah terapi yang terbaik.
Pada
menulislah saya biasa melarikan diri. Menulis membuat saya menjadi orang lain.
Begitu terlarut pada suatu tokoh yang saya ciptakan sendiri membuat saya
terkadang menginginkan kehidupannya yang begitu bahagia. Namun saya sadar semua
tokoh-tokoh itu hanya tokoh fiksi. Tidak nyata. Tapi, apa mau dikata, hanya
menulis yang dapat menghilangkan seluruh penat, beban, dan stres saya. Dengan
menulis, saya menemukan kebahagiaan saya sendiri. Menurut saya, begitulah efek
dari menulis pada diri saya sendiri.
Seringkali
saya tertawa pada diri saya sendiri. Menertawakan obsesi aneh saya pada tokoh
fiksi tertentu, pada kisah tertentu. Namun, saya akhirnya mengerti, bahwa dari
obsesi itu, saya bisa lebih memahami kehidupan.
Saya
sadar, bahwa mungkin dari menulis, kita tidak bisa menghasilkan apapun kecuali
sepenggal cerita, atau berlembar-lembar kisah, dan itupun belum tentu bisa
berarti untuk orang lain. Tapi apa yang harus saya lakukan? Saya menemukan
gairah saya pada menulis. Passion
saya ada dalam setiap halaman yang saya tulis. Setiap imajinasi, keinginan,
bahkan harapan yang saya tuangkan dalam bentuk tinta di selembar kertas.
Cara
saya untuk mencapai cita-cita saya itu adalah, tentu saja dengan berlatih,
nyaris setiap hari. Berkonsultasi dengan para ahli (guru Bahasa Indonesia dan
beberapa penulis yang saya kenal). Belajar dan belajar lebih banyak lagi.
Seperti kata pepatah, practice makes
perfect.
Hanya
saja, ada satu keyakinan saya. Ketika kita sudah berlatih, belajar mati-matian,
itu semua akan sia-sia jika tidak dibarengi dengan keinginan dan keyakinan
bahwa kita bisa, yang kuat. Pengalaman adalah guru terbaik. Dan saya sendiri
sudah merasakannya. Pengalaman cerita saya tidak disukai, itu sudah amat
sering. Pengalaman ceritanya dikritik ataupun dijelek-jelekkan, itu malah lebih
sering lagi. Tapi dari itu semua, saya tahu dan akhirnya mengerti, bahwa semua
memang selalu ada prosesnya. Dan dalam proses itulah kita akan menjadi dewasa.
Dewasa dalam segala hal. Dewasa dalam berpikir, berbicara, dan bertindak.
Kesempurnaan yang absolut atau mutlak, akan kita raih jika kita telah melalui
proses yang sama sekali tak mudah.
Tapi
saya percaya, bahwa jika kita telah melalui itu semua dan mencapai target
maupun cita-cita yang kita inginkan, hasilnya akan sebanding. Bahkan mungkin
lebih dari yang telah kita lalui. Dan semua itu, adalah bagian dari kesenangan
yang akan kita terima pada akhirnya.
“I'm selfish, impatient
and a little insecure. I make mistakes, I am out of control and at times hard
to handle. But if you can't handle me at my worst, then you sure as hell don't
deserve me at my best.” - Marilyn Monroe.
“You only live once,
but if you do it right, once is enough.” - Mae West.
“There are only two
ways to live your life. One is as though nothing is a miracle. The other is as
though everything is a miracle.” - Albert Einstein.
“It does not do to
dwell on dreams and forget to live.” - J.K. Rowling, Harry Potter and the
Sorcerer's Stone.
“Life is an
opportunity, benefit from it. Life is beauty, admire it. Life is a dream,
realize it. Life is a challenge, meet it. Life is a duty, complete it. Life is
a game, play it. Life is a promise, fulfill it. Life is sorrow, overcome it.
Life is a song, sing it. Life is a struggle, accept it. Life is a tragedy,
confront it. Life is an adventure, dare it. Life is luck, make it. Life is too
precious, do not destroy it. Life is life, fight for it.” - Mother Theresa.
Minggu, 26 Mei 2013
Namaku Pelangi
13 April 2000
Namaku Pelangi. Sekarang, aku duduk di
bangku kelas 6 SD Harapan. Saat ini aku sedang mengikuti pelajaran IPA, hanya
saja aku sudah merasa bosan mendengarkan ocehan guru IPA-ku tentang simbiosis
mutualisme atau apapun itu. Aku sendiri tak tahu kenapa aku selalu tak bisa
paham apapun mengenai pelajaran alam. Menurutku alam itu terlalu luas untuk
dipelajari sehingga ketika kita mempelajarinya dalam bentuk terkotak-kotak
seperti ini, aku merasa selalu ada yang kurang untuk dipelajari.
Sebenarnya selain menulis buku harian
ini, hal lain yang menjadi hiburanku saat ini adalah pemandangan cowok yang
duduk di sebelahku ini. Langit. Mungkin ini hanya pengaruh yang terjadi padaku
dari masa pubertas, tapi menurutku dia memang terlihat lebih ganteng daripada
teman-teman cowok sekelasku yang lain. Sayangnya dia agak nakal dan sangat
cuek. Tapi aku tak peduli. Memandanginya sepanjang hari takkan merusak mataku
kok. Mungkin aku harus meminta Bu Lusi agar tidak pernah memindahkan tempat
duduk lagi. Aku sudah cukup bahagia duduk di sini, meski duduk di baris paling
belakang dan juga paling ujung, asalkan yang duduk di sebelahku adalah Langit,
itu sama sekali tak masalah bagiku.
"Mau sampai kapan lo ngeliatin
gue," suaranya yang mulai mengalami perubahan itu tiba-tiba saja mampir ke
telingaku. Walaupun nadanya terdengar ketus, tapi itu cukup untuk membuatku
berbunga-bunga. Ahh... menyenangkan sekali. Saat dia mengucapkan itu, tentu
saja aku langsung menulisnya. Ya ampun, aku sampai lupa menjawab.
Sebenarnya, aku ingin menjawab,
"Sampai kapanpun, aku akan tetap mengagumi wajahmu yang tampak seperti
diukir oleh dewa-dewi Yunani dengan sangat jeli itu." Tapi tentu saja aku
tak mau mempermalukan diriku sendiri dengan melakukan itu. Akhirnya aku memutuskan
untuk menjawab, "Emangnya aku nggak boleh ngeliatin kamu?" (tentu
saja aku menjawab dulu baru menulis ini).
"Jangan-jangan lo nulis juga
kata-kata yang tadi, lagi," katanya mengejutkanku. Dia kemudian tampak
ingin mengintip kamu, buku harianku. Hhh... daripada dia membaca tulisanku dan
membuatku malu, lebih baik, besok lagi deh, aku nulisnya.
~~~
24 Mei 2003
Namaku Pelangi. Sekarang aku duduk di
kelas tiga SMP Darma Bangsa. Sekarang aku sedang mengikuti pelajaran sejarah,
yang sangat membosankan. Bahkan, beberapa anak di deretanku sudah tertidur
sekarang. Yah, semua anak sebenarnya di deretanku dan di deretan di depanku.
Kecuali aku dan teman sebangkuku, Langit.
Aku sendiri tak mengerti kenapa aku
masih juga duduk sebangku dengannya. Selalu saja, dia meminta duduk sebangku
denganku. Mungkin karena sudah merasa nyaman kalau bekerja sama atau mungkin
karena dia suka berada di dekatku. Haha. Aku tahu, itu sama sekali tak mungkin.
Langit dan aku? Sama seperti langit dengan bumi. Ya, ya, itu memang agak aneh, karena
namaku bukan bumi melainkan Pelangi dan langit dan pelangi hampir selalu
berdampingan, tapi itu kan hanya perumpamaan (hhh... aku jadi bingung sendiri).
Langit adalah cowok yang sangat populer
di sekolah ini. Mungkin karena wajah tampannya, atau mungkin karena dia jago
olahraga, atau mungkin karena sikap dinginnya yang malah dianggap cool dan misterius.
Sementara Pelangi? Siapa yang mengenal Pelangi? Mungkin cukup banyak juga,
mengingat aku adalah si ketua OSIS yang super kutu buku, jelek, dan aneh.
Mungkin juga karena aku ini sering ikut olimpiade dan sebagainya. Nah, sudah
liat perbedaannya? Tidak mungkin kan, seorang Langit yang super gaul itu suka
kepada seorang Pelangi yang super nerd
ini?
Sesekali aku melirik ke arah Langit.
Hmm... memang tak mungkin dia menyukaiku.
~~~
12 Januari 2006
Namaku Pelangi. Saat ini aku duduk di
bangku kelas tiga SMA. Sekarang aku sedang mengerjakan ujian nasional
matematika. Aku menulis ini di kertas coretan, tentu saja, mungkin nanti baru
akan aku pindahkan ke buku harianku. Beberapa menit yang lalu, aku baru saja
selesai memeriksa untuk yang ketiga kalinya jawabanku. Yah, aku hanya bisa
berharap bahwa aku punya cukup jawaban yang benar untuk bisa lulus.
Langit tampaknya belum selesai. Hhh...
dia tampak sangat berkonsentrasi. Dia duduk di sebelah kananku. Meja kami
memang terpisah. Tapi secara teknis, dia tetap duduk di sebelahku. Sekitar
sebulan terakhir ini, aku sering membantunya untuk belajar karena nilainya agak
menurun sejak dia terpilih menjadi kapten tim basket. Kami jadi lebih sering
bicara. Setidaknya, dia tak sedingin sebelumnya padaku, walau hubungan kami
belum termasuk hangat. Sebenarnya Langit adalah orang yang benar-benar pintar
kalau saja dia bisa lebih berkonsentrasi. Ya Tuhan, dia ternyata benar-benar
seseorang yang sempurna. Sudah tampan, pintar, jago olahraga, pandai
bersosialisasi, pula. Andai saja dia mau melihatku barang sesaat saja. Bukan
sebagai teman belajar, bukan sebagai guru, atau sebagai si kutu buku, tapi
sebagai seorang cewek, yang selalu ada di sisinya, aku pasti akan merasa sangat
bahagia.
Tiba-tiba Langit menoleh ke arahku. Dan
aku melihatnya. Dia tersenyum lebar sekali. Dia jadi tampak semakin tampan. Ini
benar-benar berkah. Mungkin dia memang bukan tersenyum padaku, mungkin pada
orang di belakang, atau di depan, atau di sebelah kiriku. Tapi aku tak peduli.
Aku tetap membalas senyum menawannya itu.
Dia menggerakkan mulutnya, membentuk kata “terima kasih”. Aku tersenyum
semakin lebar, berarti senyumannya itu memang untukku. “Sama-sama” balasku dan
kemudian bel tanda waktu ujian selesai berbunyi nyaring.
~~~
30 Juni 2010
Namaku Pelangi. Saat ini aku sedang
mendengarkan pidato dari salah satu dosenku. Ya, hari ini adalah hari wisudaku.
Mulai hari ini aku mempunyai gelar dr. di depan namaku. Aku duduk di barisan
terdepan bersama beberapa penerima gelar cum
laude lainnya. Di sebelahku, Langit duduk dan tersenyum padaku. Matanya
mengikuti tiap goresan tinta yang kutorehkan di atas kertas buku harian yang
sudah nyaris habis ini, yang menemani perjalanan kami sejak kami duduk di
bangku sekolah dasar.
Yah, dia sekarang menjadi sahabatku
sejak kami masuk di kelas yang sama saat kuliah. Kami lulus dengan nilai
sempurna pada waktu yang seharusnya. Sebenarnya aku menginginkannya menjadi
lebih dari seorang sahabat, namun kurasa, menjadi sahabatnya sudah cukup.
Aku merasa bahagia, benar-benar bahagia.
Bisa duduk di sini bersama sahabatku di hari wisudaku. Ups, tunggu dulu, apa
tadi aku menulis bahwa aku ingin dia menjadi lebih dari sahabat? Pada saat dia
sedang membacanya? Aku ini benar-benar bodoh atau apa?
~~~
Lanjutan yang sebelumnya,
Namaku Pelangi. Aku adalah seorang
sarjana kedokteran dan pacar dari Langit Pradipta. Ya, setelah tulisanku yang
sebelumnya, Langit menyatakan cintanya padaku begitu saja. Katanya, dia sudah menyimpan
perasaan padaku sejak SMA dulu. Sejak aku membantunya mempersiapkan ujian.
Haha, sungguh, aku tak menyangka.
Langit menyatakan cintanya padaku, saat
orang-orang lain sedang melempar topi toga mereka. Aku terlalu senang hingga
meneteskan air mata. Kemudian Langit memelukku dan kemudian teman-teman kami
mengerubungi kami untuk memberi selamat. Kami pun berfoto bersama, dengan pose
Langit memelukku. Ah, senangnya.
~~~
26 Mei 2013
Namaku Pelangi dan aku adalah orang paling
bahagia sejagat hari ini. Di hari ulang tahunku yang ke-25 ini, Langit,
kekasihku selama tiga tahun belakangan ini, atau harus kubilang tunanganku,
melamarku. Aku hanya bisa menangis dan kemudian memeluknya. Langit kemudian
menggenggam tanganku dan memasukkan cincin berlian ke jari ketiga pada tangan
kiriku kemudian menciumku. Ya Tuhan, ciuman pertamaku. Kulakukan dengan orang
yang kucinta.
Dua puluh lima tahun yang lalu, hal ini
bagaikan mustahil. Namaku memang Pelangi, si cahaya penuh warna, tapi menurutku,
aku ini bukan apa-apa untuk Langit, si populer dan si segalanya. Tidak mungkin
Langit bisa untuk seorang Pelangi, si kuper, si kutu buku, si jelek, dan si nothing.
Tapi sekarang, bagaikan tidak ada yang
mustahil bagiku. Aku bisa mendapatkan cinta Langit, jadi bagiku, tak ada lagi
yang mustahil. Aku tahu, mungkin aku masih tak sempurna bagi Langit. Tapi aku
akan terus berusaha. Berusaha untuk menjadi seseorang yang paling mendekati
sempurna bagi Langit seorang. Karena aku mencintainya, dan sekarang, aku
percaya bahwa cinta bisa membuat semua hal terjadi.
Mungkin fisikku tidak selalu ada di
sisinya. Tapi pikiranku dan hatiku akan selalu ada di sisinya, selamanya.
Paling tidak aku bisa menjanjikan itu.
Oh, Langit memanggilku untuk bergabung
dengan keluargaku untuk membicarakan tanggal pernikahan. Ah, aku tak menyangka
bahwa aku, Pelangi Aurelia, akan menikah dengan tunanganku, Langit Pradipta.
Bisakah kalian bayangkan itu?
Langit membisikkan sesuatu. Oh, rupanya
dia membaca tulisanku. “Kamu selalu akan menjadi sempurna untukku,” bisiknya di
telingaku tadi.
Namaku Pelangi dan aku adalah wanita
paling bahagia di dunia. Oh, dan jangan lupa untuk datang ke pernikahan kami.
Langganan:
Postingan (Atom)